Sabtu, 01 Desember 2018

Petualangan Baru Dimulai


Kemarin saya baru tiba di Pulau Natuna, bagian dari Provinsi Kepulauan Riau. Suami saya yang sedang menjalani studi pendidikan dokter spesialis mendapat tugas di Natuna selama satu bulan ke depan. Ya, karena bagi kami itu adalah waktu yang cukup lama, akhirnya suami memutuskan saya ikut bersamanya. Hihihi. Sekalian liburan tipis-tipis. Awalnya saat tahu suami akan dinas ke sana sempat ada rasa galau, resah, gelisah sekaligus antusias. Campur aduk rasanya. Beberapa pekerjaan saya di Surabaya tentunya juga perlu dipikirkan ketika saya ikut suami. Saya bersyukur karena bekerja di bidang yang selain saya senangi juga bisa mengatur waktunya dengan fleksibel. Saya pun mendelegasikan beberapa tugas ke teman yang lain, dan beberapa deadline menulis lainnya bisa saya kerjakan di mana pun.

Pulau Natuna ini lokasinya cukup jauh, pulau terluar Indonesia. Kalau dilihat di peta sangat kecil sekali hehe. Tapi ternyata perjalanan ke sana tidak selama yang saya duga. Kami berangkat dari Surabaya menuju Batam lebih dulu untuk transit. Perjalanan dari Surabaya-Batam memakan waktu 2,5 jam. Kemudian dilanjutkan Batam-Natuna dengan waktu perjalanan 1 jam. Pesawat berangkat dari Surabaya pukul 6.20 WIB dan tiba di Natuna pukul 14.15. Itu sudah terhitung delay pesawat di Batam sekitar 1 jam.

Bandara di Natuna merupakan Bandara Angkatan Udara juga. Dibanding bandara di Surabaya, memang jauh berbeda. Bandara Ranai di Natuna ini lebih sederhana, tidak terlalu luas, dan tidak ada gerai-gerai makanan di sekitar bandara. Sekilas tampak tidak ada yang istimewa. Sangat minimalis dan fungsional. Namun, ketika turun dari pesawat dan keluar dari bandara, kita akan disuguhkan dengan pemandangan alam Natuna yang indah banget. Banyak pepohonan hijau, udara sejuk dan suasananya yang sangat alami. Tak jauh dari bandara juga terbentang pantai indah. Ini yang bagi saya terasa mahal dan istimewa. Kembali ke alam membuat hati terasa tenang dan pemandangannya juga menyegarkan mata.
Pemandangan saat turun dari pesawat


Saat tiba di Bandara, suami bertemu dengan beberapa rekan sejawat sesama dokter namun berbeda spesialisasi. Ada yang dokter spesialis mata, kandungan, anastesi, dan anak. Setelah itu, kami pun langsung meluncur untuk makan siang lebih dulu. Menunya tidak asing, yaitu Nasi Padang. Untuk rasa, di sini nasi padangnya lumayan enak juga. Harga juga masih terjangkau dan tidak jauh beda dengan di Surabaya. Satu porsi nasi padang sekitar 20 ribu.

Setelah makan, kami segera menuju mess yang telah disediakan pihak Rumah Sakit. Lokasinya tepat di samping Rumah Sakit. Ada barisan rumah-rumah yang memang digunakan untuk para dokter yang sedang dinas luar di sana. Satu rumah berisi 2-3 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Bagi yang bersama pasangan, suami istri seperti kami, disediakan satu rumah khusus. Sedangkan yang single akan digabung di satu rumah.

Mess atau rumah yang kami tinggali selama di Natuna. Ada 7 rumah seperti berjejer.

Rumahnya cukup nyaman. Hanya saja, yang membuat agak terkejut adalah ternyata di dalam rumah tidak ada perabot rumah tangga haha. Jadi hanya tersedia kasur, AC, TV dan lemari pakaian. Tidak ada perabotan masak-memasak. Yah, padahal salah satu tugas saya ikut suami adalah mau jadi chef. Walaupun nggak jago banget masak juga sih haha. Tapi masalah makanan ini kan vital ya. Ya sudahlah, diterima saja yang ada.

Saat memasuki mess ini, rasanya seperti pengantin baru yang baru masuk rumah deh. Maklum, sejak kami menikah beberapa tahun lalu, kami tidak pernah tinggal sendiri dan tidak pernah juga merantau. Jadi ini pengalaman baru dan juga menantang. Segera setelah menaruh tas dan barang-barang, kami langsung kerja bakti. Menyapu, mengepel, menata ini itu, agar rumahnya lebih nyaman untuk ditinggali. Rasanya menyenangkan sekali bisa bekerjasama mengatur ini dan itu.

Malamnya kami keluar bersama teman-teman suami yang lainnya untuk makan malam. Di Natuna ini yang khas adalah ikannya. Kami makan di sebuah warung. Menunya tom yam ikan. Rasanya enak, sedap dan gurih dengan bumbu rempah yang begitu terasa. Kata teman saya, kalau kita merantau itu yang susah adalah masalah lidah. Kadang nggak cocok sama masakannya karena di Jawa banyak makanan yang enak dengan bumbu rempah yang khas. Untungnya, di sini enak-enak aja. Apalagi ikannya terasa lembut dengan dagingnya yang tebal. Hmm, makyus lah!
Tom yum ikan dan es jeruk manis


Keesokan harinya karena masih hari Minggu, kami memutuskan untuk jogging pagi di Pantai Stress. Kurang tau juga kenapa dinamakan Pantai Stress. Mungkin kalau kita ke sana jadi bisa menghilangkan pikiran yang stress kali ya hehe. Udara pantainya sangat sejuk dan menenangkan. Sudah lama nggak ke pantai, rasanya damai dan segar banget saat lihat pantai. Kebetulan saat kami ke sana di lapangan di depan pantai, ada olah raga pagi yang diikuti oleh warga sekitar. Kami pun jadi ikutan olah raga juga. Eh, saya enggak ding. Karena lebih asyik foto-foto dan menikmati pemandangannya. Hihihi


Setelah itu, kami mampir ke warung makan. Menunya macam-macam dan cukup menggugah selera. Ada nasi uduk, ketoprak, bubur ayam, lontong sayur, ada lagi tapi saya lupak hehe. Saya memesan nasi uduk. Menurut saya pribadi, nasi uduknya masih kurang gurih jika dibandingkan dengan nasi uduk di Surabaya. Tapi, masih cukup okelah untuk mengusir lapar habis “olahraga” hehe. Saya juga memesan minuman es kasturi. Setelah googling, ternyata kasturi adalah sejenis buah mangga. Makanya, rasanya manis seperti jeruk tapi ada asem yang lembut dan seger. Saya belum pernah coba dan langsung suka!
Es Kasturi


Menemui hal-hal baru bersama orang-orang baru sangatlah menyenangkan. Senang sekali berada di antara teman-teman suami yang sangat akrab dan penuh rasa kekeluargaan walau baru aja bertemu. Pastinya petualangan hingga satu bulan ke depan akan lebih seru dan membuat kami lebih akrab dan dekat satu sama lain.
Pose "love" dari kami untuk PAntai Stress.


Setelah ini, mau kemana lagi kita? Tunggu cerita selanjutnya yaaa…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tip Mengajar Menulis Kreatif

Saat mengajar workshop menulis kreatif Kalau diingat-ingat, sekitar 10 tahun yang lalu adalah awal pertama kali mulai mengajar m...