Kemarin saya baru tiba di Pulau Natuna, bagian
dari Provinsi Kepulauan Riau. Suami saya yang sedang menjalani studi pendidikan
dokter spesialis mendapat tugas di Natuna selama satu bulan ke depan. Ya,
karena bagi kami itu adalah waktu yang cukup lama, akhirnya suami memutuskan saya
ikut bersamanya. Hihihi. Sekalian liburan tipis-tipis. Awalnya saat tahu suami
akan dinas ke sana sempat ada rasa galau, resah, gelisah sekaligus antusias.
Campur aduk rasanya. Beberapa pekerjaan saya di Surabaya tentunya juga perlu
dipikirkan ketika saya ikut suami. Saya bersyukur karena bekerja di bidang yang
selain saya senangi juga bisa mengatur waktunya dengan fleksibel. Saya pun
mendelegasikan beberapa tugas ke teman yang lain, dan beberapa deadline menulis
lainnya bisa saya kerjakan di mana pun.
Pulau Natuna ini lokasinya cukup jauh, pulau
terluar Indonesia. Kalau dilihat di peta sangat kecil sekali hehe. Tapi
ternyata perjalanan ke sana tidak selama yang saya duga. Kami berangkat dari Surabaya
menuju Batam lebih dulu untuk transit. Perjalanan dari Surabaya-Batam memakan
waktu 2,5 jam. Kemudian dilanjutkan Batam-Natuna dengan waktu perjalanan 1 jam.
Pesawat berangkat dari Surabaya pukul 6.20 WIB dan tiba di Natuna pukul 14.15.
Itu sudah terhitung delay pesawat di Batam sekitar 1 jam.
Bandara di Natuna merupakan Bandara Angkatan
Udara juga. Dibanding bandara di Surabaya, memang jauh berbeda. Bandara Ranai
di Natuna ini lebih sederhana, tidak terlalu luas, dan tidak ada gerai-gerai
makanan di sekitar bandara. Sekilas tampak tidak ada yang istimewa. Sangat
minimalis dan fungsional. Namun, ketika turun dari pesawat dan keluar dari
bandara, kita akan disuguhkan dengan pemandangan alam Natuna yang indah banget.
Banyak pepohonan hijau, udara sejuk dan suasananya yang sangat alami. Tak jauh
dari bandara juga terbentang pantai indah. Ini yang bagi saya terasa mahal dan
istimewa. Kembali ke alam membuat hati terasa tenang dan pemandangannya juga
menyegarkan mata.
![]() |
| Pemandangan saat turun dari pesawat |
Saat tiba di Bandara, suami bertemu dengan
beberapa rekan sejawat sesama dokter namun berbeda spesialisasi. Ada yang
dokter spesialis mata, kandungan, anastesi, dan anak. Setelah itu, kami pun
langsung meluncur untuk makan siang lebih dulu. Menunya tidak asing, yaitu Nasi
Padang. Untuk rasa, di sini nasi padangnya lumayan enak juga. Harga juga masih
terjangkau dan tidak jauh beda dengan di Surabaya. Satu porsi nasi padang
sekitar 20 ribu.
Setelah makan, kami segera menuju mess yang
telah disediakan pihak Rumah Sakit. Lokasinya tepat di samping Rumah Sakit. Ada
barisan rumah-rumah yang memang digunakan untuk para dokter yang sedang dinas
luar di sana. Satu rumah berisi 2-3 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Bagi yang
bersama pasangan, suami istri seperti kami, disediakan satu rumah khusus.
Sedangkan yang single akan digabung
di satu rumah.
![]() |
| Mess atau rumah yang kami tinggali selama di Natuna. Ada 7 rumah seperti berjejer. |
Rumahnya cukup nyaman. Hanya saja, yang membuat
agak terkejut adalah ternyata di dalam rumah tidak ada perabot rumah tangga
haha. Jadi hanya tersedia kasur, AC, TV dan lemari pakaian. Tidak ada perabotan
masak-memasak. Yah, padahal salah satu tugas saya ikut suami adalah mau jadi chef.
Walaupun nggak jago banget masak juga sih haha. Tapi masalah makanan ini kan
vital ya. Ya sudahlah, diterima saja yang ada.
Saat memasuki mess ini, rasanya seperti
pengantin baru yang baru masuk rumah deh. Maklum, sejak kami menikah beberapa
tahun lalu, kami tidak pernah tinggal sendiri dan tidak pernah juga merantau.
Jadi ini pengalaman baru dan juga menantang. Segera setelah menaruh tas dan
barang-barang, kami langsung kerja bakti. Menyapu, mengepel, menata ini itu,
agar rumahnya lebih nyaman untuk ditinggali. Rasanya menyenangkan sekali bisa bekerjasama
mengatur ini dan itu.
Malamnya kami keluar bersama teman-teman suami
yang lainnya untuk makan malam. Di Natuna ini yang khas adalah ikannya. Kami
makan di sebuah warung. Menunya tom yam ikan. Rasanya enak, sedap dan gurih
dengan bumbu rempah yang begitu terasa. Kata teman saya, kalau kita merantau
itu yang susah adalah masalah lidah. Kadang nggak cocok sama masakannya karena
di Jawa banyak makanan yang enak dengan bumbu rempah yang khas. Untungnya, di
sini enak-enak aja. Apalagi ikannya terasa lembut dengan dagingnya yang tebal.
Hmm, makyus lah!
![]() |
| Tom yum ikan dan es jeruk manis |
Keesokan harinya karena masih hari Minggu, kami
memutuskan untuk jogging pagi di Pantai Stress. Kurang tau juga kenapa
dinamakan Pantai Stress. Mungkin kalau kita ke sana jadi bisa menghilangkan
pikiran yang stress kali ya hehe. Udara pantainya sangat sejuk dan menenangkan.
Sudah lama nggak ke pantai, rasanya damai dan segar banget saat lihat pantai.
Kebetulan saat kami ke sana di lapangan di depan pantai, ada olah raga pagi yang
diikuti oleh warga sekitar. Kami pun jadi ikutan olah raga juga. Eh, saya
enggak ding. Karena lebih asyik foto-foto dan menikmati pemandangannya. Hihihi
Setelah itu, kami mampir ke warung makan.
Menunya macam-macam dan cukup menggugah selera. Ada nasi uduk, ketoprak, bubur
ayam, lontong sayur, ada lagi tapi saya lupak hehe. Saya memesan nasi uduk. Menurut
saya pribadi, nasi uduknya masih kurang gurih jika dibandingkan dengan nasi
uduk di Surabaya. Tapi, masih cukup okelah untuk mengusir lapar habis “olahraga”
hehe. Saya juga memesan minuman es kasturi. Setelah googling, ternyata kasturi
adalah sejenis buah mangga. Makanya, rasanya manis seperti jeruk tapi ada asem
yang lembut dan seger. Saya belum pernah coba dan langsung suka!
![]() |
| Es Kasturi |
Menemui hal-hal baru bersama orang-orang baru
sangatlah menyenangkan. Senang sekali berada di antara teman-teman suami yang
sangat akrab dan penuh rasa kekeluargaan walau baru aja bertemu. Pastinya
petualangan hingga satu bulan ke depan akan lebih seru dan membuat kami lebih
akrab dan dekat satu sama lain.
![]() |
| Pose "love" dari kami untuk PAntai Stress. |
Setelah ini, mau kemana lagi kita? Tunggu
cerita selanjutnya yaaa…





Tidak ada komentar:
Posting Komentar