Kamis, 06 Desember 2018

Ada Apa di Natuna?


Pertama kali dengar bahwa kami akan ke Natuna, saya langsung mengernyitkan dahi. Hah! Natuna? Di mana itu? Itu reaksi awal saya. Mungkin sebagian orang juga akan bereaksi sama. Bingung dan mengernyitkan dahi. Seketika itu, saya langsung melihat peta Pulau Natuna. Natuna memang jarang sekali diketahui keberadaannya karena letaknya berada di pulau terluar Indonesia dan berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan.

          Letak Natuna menjorok ke Utara, karena itu ada juga yang menyangka bahwa Natuna bukan bagian dari Indonesia. Bahkan, Natuna ini sempat jadi rebutan negara tetangga, lho. Dulunya, Natuna merupakan daerah di bawah Provinsi Riau, kemudian di tahun 2002 memisahkan diri dan membentuk Provinsi Baru, yaitu Provinsi Kepulauan Riau.

Peta Pulau Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

         Walau letaknya di ujung utara dan berupa kepulauan, ternyata Natuna ini cukup aman dari gempa. Karena posisinya yang tidak dilewati oleh lempeng-lempeng bumi. Pulau ini juga tidak berada di lingkar api. Itulah yang membuatnya menjadi daerah yang cukup aman dari gempa dan letusan gunung berapi.

             Hmm, ada apa ya di Natuna?

           Kalau yang dimaksud adalah mall dan pusat perbelanjaan. Ya, memang di Natuna masih belum ada. Bahkan, indo**** dan al****rt juga nggak ada. Adanya warung-warung rumahan dan minimarket. Soal sinyal gimana? Untungnya di sini sinyal sudah ada. Cukup lancar dan aman. Saya merekomendasikan menggunakan telkomsel atau andromax untuk sinyal yang cukup kuat dan stabil. Di sini juga sudah tersedia listrik, walau memang tidak semerata dan seterang di kota besar. Beberapa daerah masih terlihat gelap saat melakukan perjalanan malam.

                Kehidupan di Natuna relatif tenang. Tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Saking jarangnya, kendaraan motor yang melintas terkadang nggak segan menggunakan kecepatan tinggi. Haha. Saya merasa penduduk di sini juga cukup ramah. Terbukti beberapa kali bertemu muka selalu saling melempar senyum. Penduduk asli yang sudah lama tinggal di sini, bisa otomatis mengenali lho kalau ada wajah-wajah baru yang ditemui atau berkeliaran hahaha.

                Gaes, ternyata Natuna itu berasal dari bahasa Belanda, yaitu Natunae yang artinya adalah alami. Pantas saja di Pulau Natuna ini banyak sekali dimanjakan dengan pemandangan alam yang masih sangat alami. Dan tak heran, Natuna juga mendapatkan julukan Mutiara di Ujung Utara. Mau tau apa saja keindahan alam yang disajikan di Pulau Natuna? Setelah beberapa hari saya tinggal di sini, ada beberapa tempat wisata dengan keindahan alam luar biasa yang bisa dijadikan referensi kunjungan jika kalian akan berlibur kemari.

Alif Stone

Alif Stone
                Alif Stone Park merupakan salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat berada di Natuna. Alif Stone Park alias Taman Batu Alif, merupakan taman bebatuan berukuran besar. Tersebar di pesisir pantai dan indah sekali. Di sana juga ada menyediakan penginapan. Menteri Kelautan Susi seringkali menginap di sana. Disebut Alif Stone, karena ada salah satu batu berukuran besar yang membentuk huruf hijaiyah alif. Lokasinya juga nggak terlalu jauh, sekitar 15 menit dari kota Ranai menuju desa Sepempang. Percaya deh! Saya sampai tidak bisa berkata-kata saat melihat keindahannya. Paling asyik ke Alif Stone saat tidak banyak pengunjung dan di pagi atau sore hari. Kita akan bisa benar-benar menikmati keindahan alamnya.

Tepat di hadapan saya, terdapat batu yang berbentuk seperti huruf hijaiyah Alif. Awal disebutnya Alif Stone Park.


Pantai Tanjung


Pantai ini letaknya di Kecamatan Bunguran Timur, tepatnya di Desa Tanjung. Perjalanan darat yang ditempuh dari kota Ranai ke Pantai Tanjung sekitar 20 menit. Dari pantai ini, kita bisa melihat Gunung Ranai sekaligus pemandangan pantai yang indah.

Di tepi pantai terdapat pondok-pondok kayu untuk menikmati kudapan sambil menikmati keindahan pantai.

Ini adalah salah satu pantai terindah yang pernah saya lihat semasa hidup. Lautnya biru, pasirnya putih bersih juga lembut, udaranya semilir sejuk, dan ombaknya yang tenang. Kita bisa meikmati pemandangan sambil menikmati kudapan di pinggir pantai. Minum es degan ijo dan kernas, salah satu jajanan khas Natuna, yaitu gorengan dari bahan ikan. Sungguh, bener-benar nikmat! Betah banget deh, berlama-lama di sini.


Pantai Stress

Lapangan yang terletak tepat di tepi Pantai Stress. Sering digunakan untuk aktifitas warga setempat.

          Pantai Stress terletak di tengah kota. Maka tak jarang di pantai ini menjadi ajang berkumpulnya warga kota. Di bibir pantai Stress, terdapat lapangan yang cukup luas. Biasanya, ada banyak penjaja makanan di sana. Tempat ini juga asyik untuk nongkrong. Kalau Minggu pagi, banyak warga yang berolahraga pagi di sana. Sebenarnya nama pantai ini adalah Pantai Kencana, namun entah kenapa dari dulu orang-orang menyebutnya dengan Pantai Stress, sehingga terbawa hingga sekarang.


Penagi



Di belakang terlihat rumah-rumah penduduk di kampung Penagi

                Awalnya saya kemari karena ingin mencari momen matahari tenggelam. Sayangnya, saat itu cuacanya mendung, jadi ketika matahari tenggelam tak nampak jelas karena tertutup awan. Namun, saat tiba di Penagi ada sesuatu yang menarik. Rupanya, Penagi ini merupakan perkampungan yang berada di Laut Natuna. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu di atas air. Dulunya, ini merupakan kampung pelabuhan yang amat ramai. Namun, karena semakin lama, perekonomian mulai bergeser di Kota Ranai, perkampungan ini perlahan menjadi sepi. Walau begitu, keasliannya masih tetap terjaga. Terasa sekali suasana kehidupan yang aman dan damai di sana.


Dermaga Pengadah       


Dermaga di Desa Pengadah

                Pengadah merupakan nama desa yang ada di Kecamatan Bunguran Timur Laut, Natuna. Kemarin kami melakukan perjalanan ke sana karena di sana ada daya tarik yang unik. Perjalanan darat dari Ranai ditempuh sekitar 1 jam dengan kondisi jalanan yang sepi. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang luar biasa indah. Bayangkan! Di sebelah kanan Anda akan melihat indahnya laut dengan air berwarna hijau dan biru. Sementara di sebelah kiri, Anda akan melihat pemandangan Gunung Ranai yang tak kalah menggoda. Perjalanan selama satu jam sama sekali tidak terasa, tertutupi oleh perasaan takjub di sepanjang perjalanan.


Pemandangan yang dilihat saat menuju ke dermaga Pengadah

                Setibanya di Pengadah, kami menuju sebuah dermaga. Pemandangan dari dermaga ini sungguh indah. Kita bisa berfoto atau hanya menikmati pemandangan alam di depan mata. Air laut yang masih jernih, memiliki gradasi warna hijau, biru muda dan biru, menghasilkan perpaduan warna yang cantik sekali. Di sini suasananya masih sangat sepi dan asli. Tidak ada tempat untuk sekadar duduk-duduk atau penjaja makanan di sekitar dermaga. Walau demikian, saya sudah sangat puas dengan pemandangan yang ada.


Berfoto di dermaga Pengadah. Salah satu tujuan kami kemari. Haha..

                Semakin menjelajahi Natuna, semakin bangga dan beryukur. Indonesia punya pulau yang bagus banget, masih alami dan pastinya nggak kalah dengan keindahan alam di negara lain. Tak sabar rasanya menjelajah daerah lainnya di Natuna. Ikuti cerita berikutnya, ya!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tip Mengajar Menulis Kreatif

Saat mengajar workshop menulis kreatif Kalau diingat-ingat, sekitar 10 tahun yang lalu adalah awal pertama kali mulai mengajar m...